Bagaimana China Memaksimalkan Teknologi Untuk Memerangi Penyebaran Virus Corona

Merebaknya virus Corona dari Wuhan telah menjadi malapetaka global; ribuan manusia meninggal, jutaan masih dalam perawatan dan berpotensi menimbulkan korban yang lebih banyak, jalur penyediaan/distribusi barang terganggu, ekonomi terhambat, penutupan pabrik sampai kota yang di-lockdown. Bencana mengerikan yang tidak / kurang kita antisipasi, bencana yang menggambarkan betapa rapuhnya kondisi fisik / kesehatan manusia dalam hubungan di dunia yang saling terhubungkan ini. Wuhan menjadi titik episentrum dan daerah yang paling hancur dari bencana ini. Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, termasuk di dalamnya teknologi paling canggih, China boleh dikatakan sukses me-mitigasi penyebaran virus Corona yang lebih masif.

Masih cukup segar dalam ingatan saat SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), virus yang tidak kalah mengerikan dari Corona, menyebar dengan cepat pada tahun 2002. Peneliti membutuhkan waktu hingga lebih dari setahun untuk memecahkan kode genome dari virus SARS. Untuk Covid-19, peneliti membutuhkan waktu yang relatif lebih cepat, yaitu beberapa bulan untuk memecahkan kode genome virus Corona. Di sini, warga dunia selayaknya memberikan apresiasi kepada kemajuan teknologi, khususnya di bidang kesehatan.
Ada beberapa cara / strategi yang diambil oleh China dalam perang melawan penyebaran Covid-19. Strategi yang mungkin dapat kita pelajari bersama.

Color Coding

Color coding
Color coding

Memanfaatkan jaringan pengawasan yang canggih dan masif (ada dimana – mana) untuk kemaslahatan umum, pemerintah China bekerjasama dengan perusahaan teknologi raksasa, Alibaba dan Tencent untuk mengembangkan sebuah sistem pengukuran kesehatan yang melacak jutaan manusia tiap harinya. Sistem ini akan memberikan warna tertentu (merah, kuning atau hijau) kepada tiap individu yang telah diukur berdasarkan parameter seperti seringnya melakukan perjalanan (dan kemana perjalanan tersebut dilakukan), catatan kesehatan (yang dikeluarkan oleh rumah sakit), dst;

Dari warna yang diperoleh inilah nantinya bisa diputuskan apakah seseorang harus dikarantina atau diperbolehkan beraktivitas / berada di ruang terbuka. Semua penduduk diharuskan masuk ke dalam sistem, yang terintegrasi dengan dompet digital seperti Alipay, yang dikeluarkan oleh Alibaba. Hanya orang yang memiliki / diberi warna hijaulah yang boleh mengakses area terbuka, contoh: diperkenankan masuk ke area transportasi masal, gedung perkantoran, dll setelah dipindai / di-scan QR code nya.
Checkpoint seperti ini telah dipasang di banyak tempat terbuka. Tercatat sudah ada 200 kota di China yang mengimplementasikan sistem ini dan akan terus dikembangkan hingga ke seluruh pelosok negeri China.

Robotics

Robotic
Robotic

Mulai dari menyiapkan makanan untuk pasien di rumah sakit, pelayan di restoran, penyemprot disinfektan, mesin dispenser untuk hand sanitizer, sampai ke vending machine atau mesin penjual otomatis menggunakan robot. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang lebih dahsyat lagi. Di rumah sakit, robot juga digunakan untuk pemeriksaan kesehatan dan untuk mengukur suhu / temperatur.
Perusahaan Multicopter yang berbasis di Shenzhen menggunakan robot untuk kebutuhan pengiriman sample (data) kesehatan.

Dilaporkan oleh Reuters, robot kecil yang bernama Little Peanut digunakan untuk mendistribusikan makanan kepada penumpang pesawat dalam penerbangan dari Singapur ke Hangzhou, China. Robot kecil ini kemudian dikarantina di sebuah hotel.

Drones

Drone
Drone

Pada daerah – daerah yang terinfeksi virus Corona secara parah, drone digunakan untuk proses pengiriman kebutuhan dan perlengkapan medis. Penggunaan drone selain menghemat waktu, juga meminimalisir resiko tercemar oleh virus Corona. Drone yang diterbangkan, telah dipasangi QR code yang nantinya setelah dipindai, digunakan untuk proses pendaftaran data – data medis. Terdapat juga drone yang digunakan untuk menyemprotkan disinfektan ke seluruh sudut kota. Drone – drone ini juga dipersenjatai dengan pemindai penegenalan wajah / face recognition, digunakan untuk menyebarkan peringatan kepada warga untuk tidak keluar rumah dan menegur orang yang keluar rumah dan tidak mengenakan masker.

Big Data and Facial recognition

Big data & face recognition
Big data & face recognition

Tersedianya akses ke informasi publik telah memfasilitasi pemerintah China untuk membuat suatu dashboard yang mampu secara terus menerus memonitor virus. Organisasi – organisasi di China juga turut mengembangkan aplikasi dengan memanfaatkan Big Data. Kombinasi dari pengenalan wajah dan deteksi suhu tubuh dengan menggunakan sinar infra merah terbukti efektif dan dimanfaatkan dalam pembuatan aplikasi, yang telah dipasang di kota – kota besar di China. Perusahaan AI / kecerdasan buatan terkenal dari China seperti SenseTime dan Hanwang, mengklaim bahwa dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah, mereka tetap dapat mengenali orang – orang secara akurat, walaupun orang – orang ini mengenakan masker. Aplikasi yang dipasang di ponsel cerdas masyarakat China juga digunakan untuk melacak pergerakan pengguna ponsel dan membaca apakah pengguna tersebut pernah melakukan kontak dengan orang yang telah terinfeksi virus.
Perusahaan media raksasa, Al Jazeera melaporkan bahwa perusahan telekomunikasi China Mobile mengirimkan pesan singkat kepada perusahan media yang dimiliki oleh negara, yang menginformasikan data – data dari orang yang telah terinfeksi. Dalam pesan singkat ini terdapat detail – detail, seperti catatan perjalanan. Kamera CCTV telah terpasang di tiap sudut kota juga digunakan untuk memastikan siapa saja yang masuk dalam status karantina tidak dapat keluar / mengakses area publik.

Artificial Intelligence

AI atau kecerdasan buatan memegang peran penting dalam dunia kesehatan saat ini. Dengan bantuan dari analisa data dan pemodelan prediktif, tenaga medis mampu membaca data – data tentang kesehatan atau suatu penyakit dengan lebih tepat.

Perusahaan internet raksasa China, yaitu Baidu, dilaporkan oleh MIT Technological Review, menggunakan algoritma Lineatrfold untuk memerangi penyebaran virus Corona. Tidak seperti Ebola, HIV dan Influenza, Covid-19 hanya memiliki 1 untai RNA, sehingga memungkinkan virus ini mampu bermutasi dengan lebih cepat. Algoritma Linearfold yang digunakan, dibanding dengan algoritma lainnya, mampu memprediksi struktur dari suatu virus dengan lebih cepat.

Baidu juga telah mengembangkan suatu layar yang mampu memonitor populasi dalam jumlah besar, dengan lebih efektif. Di dalamnya terdapat sistem yang ditenagai oleh gabungan sinar infra merah dan kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi perubahan suhu manusia secara live. Sistem ini telah digunakan di stasiun kereta Qinghe yang ada di Beijing. Sistem ini mampu secara langsung mengeksaminasi penumpang hingga 200 orang dalam waktu hanya 1 menit. Waktu yang singkat ini dibutuhkan supaya aliran penumpang kereta tidak terganggu.

Autonomous Vehicles

autonomous corona
Autonomous corona

Terjangkitnya tenaga medis oleh virus Corona dan resiko yang lebih besar dari kontak langsung dari orang ke orang, telah membuktikan bahwa penggunaan mobil swa-kendara / autonomous lebih efektif untuk mendistribusikan barang – barang yang dibutuhkan untuk keperluan medis dan makanan.
Apollo, mobil swa-kendara keluaran Baidu, yang digabungkan dengan solusi yang ditawarkan oleh Neolix, perusahaan rintisan yang fokus dalam pengembangan solusi swa-kendara, digunakan untuk pendistribusian makanan dan perlengkapan medis ke rumah sakit – rumah sakit yang ada di Beijing. Baidu juga menyediakan kit micro-car dan layanan berbasis cloud secara gratis kepada perusahaan – perusahaan untuk ikut memerangi penyebaran virus Corona.

Idriverplus, perusahaan asal China yang bergerak dalam penyediaan kendaraan listrik penyapu jalanan, juga ikut ambil bagian. Kendaraan – kendaraan dari Idriverplus digunakan untuk keperluan disinfeksi rumah – rumah sakit.


Sumber:
How China is using technology to fight coronavirus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 3 =