Edge Atau Cloud Computing, Mana Yang Lebih Cocok Untuk IoT?

Apakah komputasi awan / cloud computing mulai ditinggalkan dan mulai ada peralihan ke edge computing?
Berikut beberapa hal yang dipercaya membantu edge computing meraih momentum:

  • Tren penurunan harga beberapa komponen yang digunakan oleh perangkat IoT, contoh sensor.
  • Perangkat IoT yang semakin cerdas dan ukurannya semakin kompak
  • Teknologi terkait jaringan komunikasi yang semakin canggih, seperti 5G. Arsitektur di edge computing cocok sekali dipadukan dengan teknologi komunikasi terbaru seperti 5G, karena solusi yang dibawa / ditawarkan menjadi lebih efisien.

Harus diakui analisis data berbasis cloud telah memberikan dorongan besar dari perkembangan IoT, namun saat ini perusahaan mulai banyak memindahkan arsitektur untuk pemrosesan data dari cloud ke edge. Faktanya pada tahun 2019 sendiri, 50% dari data yang dikirimkan oleh perangkat IoT diproses di perangkat IoT itu sendiri!

Apabila ukuran perangkat dan usia baterai yang singkat membatasi kemampuan kognitif dari perangkat IoT, apakah mungkin edge computing akan mampu menggantikan cloud computing di masa mendatang?

Apa yang membuat teknologi komputasi awan semakin ditinggalkan?

Latensi (dari jaringan komunikasi) yang tinggi membuat efektivitas solusi berbasis IoT menjadi rendah

Kelemahan paling besar dari sistem IoT berbasis cloud adalah waktu yang dibutuhkan oleh sistem untuk memproses suatu tindakan. Saat perangkat / pengguna memanggil suatu action, software / aplikasi membutuhkan waktu untuk memproses perintah dan mengirimkannya ke server. Setelah server melakukan pemrosesan, server mengirimkan respon ke perangkat, perangkat kemudian menampilkan data dalam bentuk grafik, dst. Alur aktivitas semacam ini lumrah untuk solusi IoT, mulai dari solusi seperti smart home, wearable, dsb. Latensi dianggap sebagai salah satu penghalang utama bagi pengembang solusi IoT, terlebih apabila solusi yang akan ditawarkan membutuhkan waktu pemrosesan yang cepat, sebagai contoh aplikasi yang membutuhkan pemrosesan secara otonom dan real time.

Kilang minyak

Perangkat IoT menghasilkan data dalam jumlah besar

Diperkirakan pada tahun 2021, perangkat IoT akan memproduksi data hingga 847 zettabytes tiap tahunnya. Ambil contoh anjungan pengeboran minyak cerdas, dapat menggunakan hingga 30.000 sensor untuk memonitor berbagai performa berdasarkan banyak parameter, mulai dari jumlah jam penggunaan bor yang dihitung dari rotasi bor minyak, kecepatan pompa, dsb. Namun pada industri yang lain, contohnya manufaktur, mungkin hanya perlu menganalisa 1% saja dari data yang dihasilkan oleh sensor, untuk mendeteksi kejanggalan pada saat operasional dan mencegah potensi kecelakaan kerja. Sisa dari data yang “tidak dibutuhkan”, yaitu 99% hanya dibutuhkan sebagai status, yang dapat digunakan untuk membuat pemodelan untuk rencana / prediksi perawatan berikutnya.

Hacker dapat melakukan penetrasi dan akses ilegal pada saat data sedang dikirimkan baik pada sisi perangkat IoT maupun pada sisi server di cloud.

Menyimpan dan memroses data IoT di cloud umumnya aman. Namun 91.5% data yang dikirimkan oleh perangkat IoT tidak dienkripsi. Celah ini dapat dimanfaatkan oleh hacker untuk melakukan aktivitas ilegal seperti masuk ke dalam jaringan yang digunakan oleh perangkat IoT dan menyadap paket data yang sedang dipertukarkan.

Biaya yang dikeluarkan untuk komunikasi data dan konsumsi listrik meningkat, tetapi hingga saat ini belom ada alternatif selain memanfaatkan jaringan komunikasi berbasis selular.

Perusahaan telekomunikasi besar seperti AT&T dan Verizon mulai melakukan uji coba dari jaringan komunikasi yang membutuhkan daya listrik minim, yang akan digunakan oleh komunikasi antar mesin / M2M. Implementasi dari jaringan ini akan lebih murah dari LTE dan perangkat yang terhubungkan oleh jaringan ini tidak membutuhkan energi / daya listrik yang besar, yaitu dengan memangkas bandwith hingga “hanya” 120 Kbps. Walau terdengar baik, ha ini tidak menjamin pada jangka panjang teknologi ini akan menghemat biaya. Ambil contoh, kebutuhan bandwith yang tiap tahunnya selalu meningkat. Lalu beberapa fitur akan mengalami kendala apabila diimplementasikan pada jaringan berpita sempit, sebagai contoh: proses update firmware secara OTA, pemrosesan data berbasiskan suara, video, dsb.

Edge computing mampu membantu mengurangi jumlah data yang ditransmisikan pada suatu jaringan, mampu menghemat bandwith dan termasuk di dalamnya mampu mengurangi latensi.

Ada beberapa hal yang mampu membuat teknologi berbasis edge computing menjadi pilihan yang tepat untuk digunakan oleh solusi IoT:

  • Biaya yang harus dikeluarkan untuk pengembangan perangkat keras, termasuk di dalamnya sensor, tren nya terus menurun. Pada rentang tahun 2004 hingga 2014, rata – rata harga sensor telah mengalami penurunan dari $1.3 hingga $0.6, dan diproyeksikan akan terus menurun hingga 37% pada tahun 2020.
  • Ukuran perangkat yang semakin kompak. Munculnya perangkat seperti Raspberry Pi 4 yang berukuran sangat kompak namun memiliki kemampuan komputasi yang baik sangat membantu pengembangan beberapa fitur pada perangkat IoT.

Pada kasus tertentu dimana analisa data tidak dapat dilakukan pada perangkat IoT, fog computing akan sangat membantu

Teknik yang memanfaatkan “penengah”, baik berupa komputer, perangkat jaringan atau data center dalam skala kecil, dapat membantu “memecah” trafik data antara sumber data, yaitu perangkat IoT dan server di cloud.

Arsitektur dari edge computing membutuhkan kombinasi dari server yang ada di sisi pengguna dan di sisi cloud. Programmer spesialis IoT dapat merancang suatu sistem dimana pemrosesan data dilakukan di cloud dan dapat “dipindahkan” ke server yang terdapat di sisi pengguna.

Arsitektur ini memastikan waktu respon yang sifatnya real time, memastikan data yang ditransmisikan sudah terenkripsi dan memungkinkan sistem tetap berjalan walaupun terdapat gangguan pada sisi server yang ada di cloud.

Dan dengan adanya teknologi komunikasi terbaru seperti 5G, sistem IoT yang memanfaatkan edge computing akan lebih cepat dan efisien.


Sumber:
Intelligent edge or cloud computing: Which is the killer app for IoT?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + eight =