Pelajaran Yang Dipetik Pengembang Solusi Berbasis IoT Pasca Krisis Covid-19

Ilustrasi virus Corona

Menurut Forrester Research, teknologi terkait kesehatan dipercaya akan menjadi prioritas utama dalam pengembangan layanan berbasis Internet of Things / IoT setelah krisis Covid-19 mereda. Berdasarkan data terbaru, dari keseluruhan layanan yang ditawarkan oleh perusahaan besar penyedia layanan berbasis IoT di Asia Pasifik, hanya 7% saja yang terkait kesehatan.

“Krisis Covid-19 ini telah memantik banyak sekali ide – ide, namun karena faktor waktu, tidak dimungkinkan untuk menggali lebih dalam lagi pendekatan strategisnya, baik dari sisi teknologi maupun proses bisnisnya. Hal ini pastinya akan menjadi fokus utama dari pemerintah, penyedia layanan kesehatan dan pihak – pihak terkait, setelah krisis ini berlalu”, dikatakan oleh Achim Granzen, analis senior dari Forrester, seperti dikutip dari situs FutureIoT.

Achim Granzen

Granzen menambahkan: “Saya perkirkan angka 7% ini akan meningkat setelah krisis Covid-19, dimana pemerintah, penyedia layanan kesehatan dan pihak terkait akan mematangkan ide – ide dan solusi yang saat ini masih bersifat ad-hoc

Dalam pantauan Granzen, beberapa minggu terakhir ini saja terdapat ide – ide yang menarik yang dikembangkan, ambil contoh test Covid-19 ala drive-through di Korea Selatan. Percepatan waktu pengetestan untuk mendapatkan hasil yang akurat juga menjadi perhatian pemerintah. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat krusial untuk identifikasi dan pelacakan klaster – klaster yang telah terinfeksi. Singapura juga kami anggap berhasil melakukan hal serupa.

Sebuah dorongan untuk teknologi digital dan akses jarak jauh

Di tengah – tengah merebaknya penyebaran virus Corona, Grazen juga mengamati adanya peningkatakan yang signifikan terhadap teknologi terkait akses (digital) jarak jauh.

“Saat ini konferensi video ada dimana – mana, ini membantu gerakan jaga jarak yang digaungkan oleh pemerintah. Konferensi video juga membantu operasional perusahaan tetap berjalan. Perusahaan dan organisasi seperti dipaksa untuk melakukan adaptasi teknologi, lebih cepat dari yang mungkin telah direncanakan.” dikatakan oleh Granzen.
“Saya juga melihat adopsi secara cepat dan masif ini di area – area lain, seperti sekolah. Sekarang sekolah merubah metode pengajarannya menjadi kelas virtual yaitu melalui konferensi video. Bahkan yang luar biasa, aktivitas terkait keagamaan juga dilakukan secara daring / online”.

Melihat dari perspektif yang lebih besar, Granzen mengatakan bahwa sebenarnya teknologi telah siap dan tersedia untuk digunakan dalam upaya melawan penyebaran virus Corona.

“Kita saksikan sendiri penggunaan perangkat untuk memonitor data – data (kesehatan) pribadi, Hong Kong sebagai contoh, telah mengeluarkan gelang yang harus dikenakan oleh penumpang pesawat yang terindikasi memiliki resiko tinggi telah tertular virus Corona. Singapura memiliki aplikasi pemantauan bagi mereka yang telah menerima notifikasi untuk tetap di rumah. Tidak lupa, di Singapura hampir tiap gerbang masuk dari suatu gedung / area publik telah dipasang alat pemantau suhu badan. Sangat mudah bagi pemerintah Singapura untuk mengambil tindakan yang diperlukan dengan tersedianya data – data (kesehatan) secara real-time. Inilah sebenarnya esensi dari IoT.

Hal lain yang ditunjukan oleh Granzen terkait krisis Covid-19 adalah manfaat dari penggunaan teknologi smart manufacture. “Industri 4.0 memungkinkan operasional perusahaan dari jarak jauh, seperti pemantauan dan pemeliharaan lini – lini produksi”.

“Ini memainkan peran yang vital supaya industri manufaktur di Asia Pasifik lebih cepat pulih dari krisis”, ditambahkan Granzen.

“Saya yakin setelah apa yang terjadi, tindakan – tindakan (ad-hoc) yang diambil saat ini akan dirumuskan untuk menjadi suatu sistem tanggap darurat yang baku. Suatu sistem yang tidak hanya memungkinkan kita untuk menghadapi krisis berikutnya dengan lebih baik, tetapi juga mempercepat transformasi digital dari seluruh sektor, yang terdampak krisis Covid-19.”

Diingatkan juga oleh Granzen bahwa dari semua tindakan yang telah diambil saat ini, prioritas utama adalah melindungi nyawa manusia.

“Pemerintah bekerjasama dengan perusahaan – perusahaan akan menghitung, mengevaluasi dan merumuskan apa – apa saja respon yang baik yang telah diambil dan rumusan ini akan dijadikan standar penanganan (krisis) yang permanen. Diperlukan juga komposisi yang imbang antara penggunaan data – data penduduk untuk kepentingan nasional, sambil tetap menjaga kerahasiaan data. Ini bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi tetap harus dilakukan”.

Dampak dari Covid-19 terhadap pengembangan IoT

Merebaknya virus Corona, tidak dipungkiri lagi telah berdampak kepada pengembangan teknologi berbasis IoT yang telah berjalan saat ini.

Ambil contoh, penundaan Olimpiade 2020. Krisis ini telah menjadi berita buruk bagi perusahaan – perusahaan yang telah mengembangkan solusi IoT, yang semula direncanakan untuk digunakan sepanjang perhelatan Olimpiade 2020.

“Telah digaung – gaungkan sebagai perhelatan olimpiade pertama di dunia yang akan menggunakan teknologi berbasis IoT secara besar – besaran. Investasi juga telah dikucurkan dengan begitu besar oleh pemerintah Jepang dan perusahaan teknologi dari seluruh dunia untuk pengembangan solusi IoT terkini dan tercanggih seperti manajemen pergerakan manusia dalam jumlah besar, keamanan publik, transportasi, dll.
Perhelatan yang telah ditunda ini berakibat batalnya juga perusahaan – perusahaan teknologi memamerkan solusi yang telah mereka kembangkan.”

“Saya percaya setelah krisis berakhir, pengembangan solusi berbasis IoT akan semakin masal karena banyak pelajaran yang kita petik dari krisis yang terjadi. IoT akan memainkan peran yang besar dalam memodernisasi industri kesehatan dan pencegahan bencana, keamanan publik, supply chain dan proses manufaktur dan produksi.”


Sumber:
IoT developers to focus more on smart healthcare post-COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =