5 Wanita Revolusioner Di Dunia IoT

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kaum hawa adalah golongan minoritas di dunia teknologi (termasuk di dalamnya IoT).
Hal ini semakin dikuatkan oleh survey yang dilakukan oleh LinkedIn, bahwa 91% insiyur adalah kaum pria. Makin diperparah oleh fakta dari Wired yang menyatakan bahwa dari ribuan pendanaan awal yang dikucurkan antara tahun 2012 hingga 2014, hanya sedikit sekali kaum hawa (terlebih yang berkulit hitam) yang berhasil mendapatkan pendanaan awal. Jumlah persisnya adalah 24 dari 10.238 pendanaan atau 0.2%!

Namun dari fakta yang cukup menyedihkan di atas, setidaknya tercatat ada 5 wanita yang sukses menjadi figur / ikon di dunia teknologi, khususnya IoT. Dan berikut daftarnya:

Alicia Asin, Co- Founder & CEO, Libelium

Libelium adalah perusahaan penyedia layanan komunikasi nirkabel sekaligus penyedia device / perangkat pendukungnya. Sebagai seorang CEO dan co-founder, fokus Alicia adalah bagaimana membuat revolusi teknologi selanjutnya (melalui IoT) menjadi kenyataan. Alicia juga rutin menjadi pembicara di konferensi internasional terkait issue – issue seperti Smart Cities, Wireless Sensor Networks dan IoT.
Alicia juga menjadi wanita pertama yang menerima penghargaan sebagai National Young Entrepreneur pada tahun 2014 dari Spanish Confederation of Young Entrepreneurs (CEAJE)

 

Ayah Bdeir, CEO, littleBits Electronic

littleBits adalah suatu platform yang telah banyak memenangkan penghargaan karena memudahkan semua orang untuk membuat inovasi / penemuan, baik penemuan besar maupun kecil. Ayah Bdeir adalah co-founder dari Open Hardware Summit, Senior Fellow dari TED (organisasi nirlaba dengan semangat untuk menyebarkan ide – ide yang dapat merubah dunia). Beberapa pencapaian dari Ayah Bdeir antara lain: 26 insinyur wanita paling berpengaruh menurut majalah Business Insider, 1 dari 35 tokoh dengan umur di bawah 35 tahun yang paling kreatif  dalam dunia bisnis, masuk dalam Next List dari CNBC dan inovator di bawah 35 tahun dari MIT Technology Review.

 

Anne Lauvergeon, Chairman, SIGFOX 

SIGFOX adalah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi selular khusus untuk Internet of Things dan Machine-to-Machine (M2M). SIGFOX menawarkan layanan yang berbeda dari layanan telekomunikasi yang ada saat ini, dimana layanan dari SIGFOX lebih fokus kepada komunikasi yang ekonomis dan efisien dalam hal konsumsi daya listrik. Anne yang merupakan seorang sarjana fisika dan kimia, adalah CEO sekaligus Chairman dari Areva dari tahun 2001 sampai 2011.
Posisi ini menjadikan Anne sebagai wanita pertama yang menjalankan bisnis di bidang energi nuklir.
Pada tahun 2009, Anne masuk dalam peringkat 4 dari majalah Fortune dalam 10 pemimpin dunia yang paling berpengaruh. Saat ini Anne menjabat sebagai Chairman dari SIGFOX.

 

Limor “Ladyada” Fried, Founder, Adafruit

Adafruit Industries adalah perusahaan berbasis di New York City, yang menjual perangkat keras yang bersifat open-source. Perusahaan ini didirikan oleh Ladyada pada tahun 2005, yang pada awalnya hanya menempati ruangan di asramanya di MIT.
Saat ini mempekerjakan lebih dari 50 orang di jantung kota NYC. Ladyada yang merupakan lulusan dari MIT, memegang rekor sebagai insinyur wanita pertama yang dimuat di halaman muka majalah WIRED dan dinobatkan sebagai Enterpreneur of the year dari majalah Enterpreneur. Ladyada juga merupakan anggota perdana dari NYC Industrial Business Advisory Council.
Adafruit sendiri masuk dalam peringkat 11 dari 20 perusahaan manufaktur paling terkemuka di Amerika dan nomor 1 di New York City dari majalah Inc pada 5.000 perusahaan swasta paling cepat berkembang.
Adafruit juga pernah diliput dalam Google’s Economic Impact Report. Ladyada diberi gelar sebagai Champion of Change dari Gedung Putih pada tahun 2016.

 

Meredith Perry, Founder and CEO, uBeam

uBeam adalah perusahaan startup yang berbasiskan di Los Angeles, California. Produk uBeam memungkinkan untuk melakukan pengisian tenaga / daya listrik secara nirkabel (over the air). Meredith mendirikan uBeam pada tahun 2011 pada saat ia menempuh pendidikan di University of Pennsylvania. Meredith juga pernah menjadi student ambassador untuk NASA, dimana dia mengerjakan teknologi yang mampu mendeteksi kehidupan di Mars, melakukan beragam percobaan dalam gravitasi nol sekaligus melakukan riset dan menerbitkan makalah ilmiah dalam hal astrobiologi dan dunia kedokteran. Lulus pada tahun 2011 dari keilmuan paleobiology, Meredith masuk dalam daftar “40 penggerak di bawah umur 40” dari  majalah Fortune, masuk dalam daftar “30 di bawah umur 30” majalah Forbes dan masuk sebagai “The New Establishment” pada majalah Vanity Fair. Meredith juga dikenal sebagai “orang paling kreatif” di dunia industri dan menerima penghargaan “Genius Award” dari majalah Elle.

 

 

Sumber: 5 women who are changing the IoT world

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + 4 =