Tingginya Biaya Menghambat Adopsi IoT di Sektor Pertanian

Internet of Things (IoT) memang telah mulai masuk ke industri pertanian, namun pada laporan terbaru mengungkapkan bahwa biaya yang relatif tinggi yang dibebankan penyedia layanan teknologi (berbasis IoT) kepada pengusaha pertanian mengakibatkan lambatnya adopsi IoT di sektor pertanian itu sendiri.

iot-agriculture-farming-e1470365237744

Manfaat yang dibawa oleh IoT pada industri pertanian seperti hasil panen yang lebih baik, efisiensi dalam penggunaan air, pupuk dan benih, dsb memang telah dirasakan oleh petani; namun kembali, keraguan terbesar petani adalah apakah biaya / investasi yang mereka keluarkan untuk menerapkan teknologi berbasis IoT akan tertutupi oleh manfaat yang mereka peroleh atau malah sebaliknya mereka mengeluarkan biaya tambahan yang dipandang tidak perlu.

Fenomena ini tentunya tidak hanya terjadi pada industri pertanian. Para pelaku industri ritel (sebagai contoh) telah mengalami hal yang sama, banyak dari mereka yang akhirnya menunda (atau bahkan membatalkan) keputusan untuk memanfaatkan teknologi berbasis IoT ini dikarenakan biaya yang dikenakan tidak sebanding dengan manfaat yang mereka terima.

Kembali kepada dunia pertanian, tidak terlalu banyak penyedia layanan teknologi berbasis IoT yang mengenakan sistem pembayaran tahunan. Salah satu dari perusahaan ini adalah OnFarm Systems, dimana mereka menyediakan Grower Dashboard, yaitu sebuah platform yang memungkinkan petani mengelola sendiri sensor – sensor (yang terkait dengan pertanian), mampu memonitor temperatur, cuaca, irigasi air, sampai ke fitur analitik yang diyakini mampu meberikan hasil pertanian yang lebih baik.

Selain dari fitur – fitur di atas, disediakan juga fasilitas seperti peringatan melalui pesan singkat / SMS, peta lahan pertanian, data tren cuaca, dsb; Biaya yang dibebankan ke petani adalah sebesar 100 dollar per tahun dengan batasan tertentu, contoh: hanya 1 lahan pertanian yang mampu dikelola; apabila petani ingin memanfaatkan layanan tanpa batas / unlimited, biaya yang dikenakan adalah 500 dollar per tahun.

 

Tipisnya keuntungan yang diperoleh, menyulitkan petani untuk mengadopsi teknologi

Penyedia layanan teknologi IoT kepada dunia pertanian lainnya tidak mempublikasikan biaya yang akan mereka kenakan ke petani. Semios sebagai contoh, menampilkan 5 jenis layanan yang berbeda untuk berbagai jenis lahan (contoh: pertanian atau perkebunan), namun tidak dijelaskan lebih lanjut apakah jenis – jenis layanan ini masuk dalam 1 paket (yang dibayarkan secara tahunan) atau tidak.

Layanan yang ditawarkan oleh Phytech bahkan lebih mahal, biaya / investasi yang harus dikeluarkan oleh petani hingga 500 dollar per 4.000 m2 (0.4 hektar).
Phytech memang menjelaskan bahwa solusi yang mereka tawarkan mampu menghemat air sampai 10% hanya dalam waktu 2 minggu saja. Namun pertanyaannya adalah apakah penghematan ini mampu menutupi biaya / investasi yang telah dikeluarkan?

Sektor pertanian seperti yang kita ketahui, tidak mendapatkan margin / keuntungan yang besar untuk dari hasil panenan yang mereka terima, oleh karenanya penyedia layanan / solusi berbasis teknologi IoT harus menjawab pertanyaan klasik di atas.
Apakah 10% penghematan air atau 20% peningkatan hasil panen ini mampu memberikan manfaat untuk petani? (yang telah mengeluarkan sejumlah investasi)
Pertanyaan ini, apabila mampu dijawab dengan baik, akan membuka lebar pintu untuk masuk ke sektor pertanian bagi para penyedia layanan teknologi berbasis IoT; namun sebaliknya akan semakin banyak petani yang menolak adopsi teknologi IoT, hingga tahun – tahun mendatang.

 
Sumber: IoT grows crops best, but still too pricy for farmers

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 3 =