Potensi IoT Pada Solusi Yang Memanfaatkan Jaringan Wireless Mesh

Perusahaan rintisan / startup yang berbasis di Gold Coast, Levaux mengungkapkan ambisi untuk menguasai pasar smart building  melalui teknologi wireless mesh (proprietary) yang mereka kembangkan.

Pada tahap awal, Levaux telah mengimplementasikan teknologi mereka, SenseAgent, yaitu suatu sistem berbasis cloud yang dapat digunakan untuk mengelola gedung berikut aset – aset yang ada di dalamnya. Dengan menggunakan sensor yang terhubungkan melalui jaringan wireless mess, sistem mampu memonitor dan mengontrol lampu, pemanas dan sistem pendingin gedung. Semua ini dapat dengan mudah dilakukan melalui web portal yang telah disediakan.

Bluetooth digunakan untuk menghubungkan sensor – sensor tersebut sekaligus juga digunakan untuk melacak orang – orang yang berada dalam gedung (contoh: karyawan gedung) dan aset gedung lainnya.

“Saat ini kami sedang bersiap untuk masuk ke fase komersial” seperti dikatakan oleh marketing manager Levaux, Russell Cook kepada Computerworld Australia.

“Kami sudah menyelesaikan installasi 2 proyek awal kami, 1 di daerah Brisbane, yang sudah beroperasi penuh dan saat ini juga sedang masuk penyelesaian di proyek ke-2 kami. Kami berharap sudah bisa mulai komersial secepatnya pada tahun ini juga.”

“Untuk proyek perdana kami adalah  kami membangun sistem yang mampu mengontrol penuh HVAC (Heating Ventilating and Air Conditioning), sistem ini berjalan secara otonom melalui sensor – sensor yang terpasang”.

“Kami juga memiliki sistem ‘daylight harvesting‘ yang mampu menyesuaikan penerangan dalam gedung berdasarkan tingkat pencahayaan / penerangan normal, sehingga mampu menjaga tingkat penerangan secara konstan, sekaligus mampu menghemat biaya yang dikeluarkan untuk listrik.”

CEO sekaligus founder dari Levaux, Simon Benson mengatakan keunggulan dari solusi yang mereka tawarkan adalah teknologi wireless mesh yang mereka kembangkan sendiri, dimana solusi ini memiliki latensi yang sangat rendah.

“Yang sering kali dilupakan orang adalah IoT bukan hanya melulu mengenai akuisisi data, tapi juga control” dikatakan oleh Benson.

“Komunikasi data yang benar – benar real-time adalah yang memiliki latensi di bawah 400 milliseconds, di atas itu tidak bisa dikatakan real-time. Pelanggan kami sangat sadar akan hal ini, dan inilah yang menjadi fokus kami”

Benson mengatakan bahwa perusahaannya melihat beberapa peluang lain untuk mengembangkan sistem lebih dari yang mereka rancang di awal, yaitu monitoring dan control penerangan gedung.

“Misi kami adalah menyediakan solusi kepada gedung – gedung residensial (apartemen) dan komersial, mulai dari solusi untuk memonitor dan mengontrol penerangan gedung, emergency management dan tracking”.

“Kami meletakan sensor – sensor yang saling terhubungkan melalui Bluetooth yang mampu melacak orang dan benda – benda”.

Dikutip dari website Levaux, solusi yang mereka tawarkan, yaitu sistem dibangun dari sensor – sensor yang saling terhubungkan secara end-to-end dan berbasiskan cloud mulai operasional sejak tahun 2013 dan sejak itu mereka berusaha menjadi pemimpin pasar untuk aplikasi IoT dengan latensi rendah, aman dan dengan skalabilitas tinggi.

Benson sendiri mengatakan bahwa ia mulai mengembangkan teknologi mesh Levaux, berbasiskan standarisasi IEEE 802.15.4, yaitu standarisasi untuk jaringan mess wireless pada tahun 2009.

“Saat itu saya menemui masalah yang cukup menarik dan telah mencoba berbagai jenis chipset dan akhirnya memilih Ember, yaitu suatu sistem yang berbasiskan Zigbee, namun setelah kami ujicobakan dengan lebih intensif, saya sampai pada kesimpulan bahwa Zigbee tidak dapat kami gunakan.”

Dilanjutkan oleh Benson, “Setelah itu saya coba mengembangkan sendiri jaringan mesh yang cocok untuk middleware yang kami miliki”

Ember sendiri diketahui diakuisisi oleh Silicon Labs pada tahun 2012, dan pada tahun 2014, Silicon Labs memperkenalkan Thread, suatu protokol untuk jaringan mesh yang khusus digunakan untuk aplikasi IoT. Thread ini sendiri berbasiskan IEEE 802.15.4 dan dikembangkan bekerjasama dengan beberapa perusahaan seperti Nest Labs, Samsung, dll.

“Google mengambilalih Thread dan membuatnya opensource. Thread saat ini serupa dengan apa yang kami kembangkan” dikatakan oleh Benson.

Benson mencoba menyakinkan calon pengguna solusi yang mereka tawarkan, meskipun teknologi mereka sifatnya proprietary namun biaya yang akan dikeluarkan oleh calon pengguna tidak akan lebih besar dari apa yang ditawarkan oleh solusi sejenis yang berbasiskan / memiliki standard seperti Thread.

“Device – device yang kami kembangkan menggunakan chipset dengan seri EM358, chipset ini menggunakan firmware yang kami kembangkan sendiri. Satu – satunya biaya tambahan yang akan dikeluarkan oleh pelanggan kami adalah firmware ini, namun dengan biaya tambahan ini, pelanggan mendapatkan nilai lebih seperti kecepatan dan keamanan, semua ini karena protokol yang kami gunakan tidak lazim (karena dikembangkan sendiri oleh Levaux)”.

 
Sumber: Gold Coast startup sees IoT potential in wireless mesh network

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =